The Chronicles of Draculesti: The Destiny

The Chronicles of Draculesti: The Destiny
Genre: 
Language: 
Pages: 
208
Published: 
April 1st 2011 by D'Rise Publishing
Rating: 
4.0

Deg… deg… deg… jantung Bayazid berdegup kencang ketika ia menatap pemandangan yang terhampar di hadapan. Matanya membelalak, jiwanya disiksa kekhawatiran. Langkah kudanya terhenti. Syekh Hassan yang ada di sebelahnya ikut terpaku, ia tak percaya penglihatannya. Barisan prajurit Khilafah Utsmaniyah berbaris memanjang di kanan-kiri dan di belakang Bayazid, bertanya-tanya.

Mereka menyaksikan bekas-bekas medan perang di hadapan mereka. Jasad-jasad tentara Islam bergelimpangan tak menentu, tombak dan pedang tertancap di tanah dan mayat-mayat. Padang rumput di hadapan kota Oryahovo telah basah oleh darah.

Bayazid menatap jembatan besar Oryahovo di depan, mayat-mayat pun bertumpuk-tumpuk di sana. Wajah Bayazid tegang, alisnya melengkung, dahinya berkerut, bibirnya keras. Selama beberapa saat ia terpaku begitu saja di atas punggung kudanya, tak bicara apa-apa.

Syekh Hassan menoleh kepada Bayazid, ia menatap Bayazid penuh makna. Ia menunggu perintah pemimpinnya. Namun Bayazid seolah-olah membatu.

“Sultan?” Panggil Syekh Hassan.

Bayazid diam saja.

“Sultan?”

Tetap bergeming. Tapi tiba-tiba mata Bayazid berkaca-kaca, bibirnya gemetar, ia mulai terisak. Pandangannya telah berbaur, sebab air suci telah menggumpal-gumpal di kelopak matanya. Air itu menetes, mengalir di pipinya, jatuh ke janggutnya. Bayazid menangis tersedu-sedu di atas kudanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.

“Allahh… Allahu Robbi…” Isaknya lirih.

“Sultan??” Syekh Hassan terharu.

Bayazid membuka kembali wajahnya, matanya nanar. Pandangannya menyapu mayat-mayat rakyatnya yang bertumpuk-tumpuk.

“Astagfirullahal’azim,” bisiknya.

“Sultan?” Syekh Hassan tak kuasa berkata apa-apa.

Bayazid terus menangis. Sedetik kemudian banyak tentara Islam telah menangis dalam lara. Hingga suara tangis seolah-olah meledak.

“Bagaimana, Syekh??” Bayazid terus terisak. “Bagaimana aku bertanggung jawab akan semua ini kepada Allah?? Bagaimana??”

Tangisan Bayazid meledak lagi. Dia tutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Bahunya naik-turun, terguncang-guncang seirama jantungnya yang lara. Ada satu kata yang membuatnya ngeri setengah mati, tanggung jawab.

“Astagfirullah, shollu ‘ala Rosulillah,” mata Syekh Hassan berkaca-kaca.

“Apa yang mesti kukatakan kepada Allah? Aku tak mampu melindungi rakyatku sendiri.” Bayazid merenggut dadanya, wajahnya menunduk penuh penyesalan. “Aku harus bilang apa kepada Allah??”

“Sabarlah, wahai Sultan, ini semua bukan salahmu, kau sudah kerahkan semua kemampuanmu demi melindungi rakyatmu. Allah maha melihat, maha mendengar, Dia tahu engkau telah berjuang sedemikian keras demi agama, demi membela rakyatmu juga,” kini air mata Syekh Hassan telah tumpah.

“Astagfirullah,” ratap Bayazid.

“Kita mesti mengejar pasukan salib demi melindungi kaum muslim,” kata Syekh Hassan, “kita mesti menghancurkan mereka agar mereka tak berbuat kerusakan lagi. Sabarlah, Sultan, Allah meridhoi dan merahmatimu, sebab kau selalu berjuang untuk Islam dan membela rakyatmu.”

Bayazid menyeka air mata dengan jemarinya. Pandangan matanya menjadi lebih jelas, dan jiwanya lebih kokoh. Ia menatap ke depan, memandang tentara Islam dan kaum muslim yang telah syahid membela agama. Hatinya menaikkan doa kepada Allah. Mulutnya membisikkan zikir.

“Kita akan mengejar pasukan salib, tapi kita tidak boleh meninggalkan Oryahovo dalam keadaan seperti ini.” Kata Bayazid.

Syekh Hassan dan prajurit muslim memperhatikan kata-kata pemimpin kaum muslim itu. Bayazid melanjutkan.

“Pasukan Sipahi masuk terus ke Oryahovo, hancurkan garnisun tentara salib di sana, kalau memang mereka meninggalkan garnisun di sana. Pasukan Jannissari kutugasi menguburkan saudara-saudara kita yang syahid mulai dari yang di depan kita ini. Syekh, kau pimpin Jannissari, aku akan tangani Sipahi.”

“Siap, Sultan,” sahut Syekh Hassan.

Begitu perintah keluar, para prajurit serentak melaksanakannya. Bayazid melarikan kudanya memasuki Oryahovo diiringi derap kaki kuda tentara Sipahi. Sementara Syekh Hassan melambaikan tangannya meneruskan perintah sultan kepada tentara Jannissari.

Sepanjang perjalanan memasuki Oryahovo, Bayazid terus menggumamkan istigfar. Ia lihat pasukan salib bukan cuma membunuh tentara, tapi juga perempuan dan anak-anak. Garnisun tentara salib segera dihancurkan dengan mudah, mereka semua tewas, tak ada yang bersisa.

Bayazid terus beristigfar, matanya menatap sayu ke dalam masjid yang di dalamnya telah penuh dengan mayat wanita dan anak-anak. Darah mengering bergelimang di mana-mana, potongan-potongan tubuh berserakan. Di atas punggung kudanya lagi-lagi Bayazid terpaku.

Tiba-tiba Bayazid terlonjak dari lamunannya, seorang prajurit berkuda datang menghampirinya, melapor.

“Sebaiknya Sultan melihat ini.”

Tanpa bicara, Bayazid memacu kudanya mengikuti anak buahnya itu. Berdua mereka bergegas menuju ke tengah kota Oryahovo. Dan pemandangan di sana kembali membuat mata Bayazid berkaca-kaca.

Di sana, Bayazid menatap Dogan Bey yang telah disalib. Tangannya terentang dipaku ke kayu salib. Kepalanya terkulai lemah ke dadanya, wajahnya lebam-lebam dengan darah yang telah mengering, pakaiannya compang-camping, matanya tertutup rapat. Bayazid menggumamkan zikir lirih.

“Cepat turunkan dia,” perintahnya.

Para prajurit dengan cepat menurunkan Dogan Bey. Mencabut paku di tangannya, menerka-nerka apakah Dogan Bey masih hidup atau sudah mati. Dogan Bey terbaring di tanah berumput, tak bergerak sedikit pun. Para prajurit mengelilinginya, namun para komandan regu mengomando kerumunan itu agar tidak terlalu rapat, sebab Dogan Bey –kalau memang benar dia masih hidup- akan membutuhkan udara segar.

Bayazid terus menatap Dogan Bey. Ia buru-buru turun dari kudanya. Pandangan matanya tak mau lepas dari tubuh bawahannya yang terbaring di rumput itu. Dia berlutut di sisi Dogan Bey, hatinya tenggelam di lautan duka yang dalam. Dengan cepat dia sentuh pembuluh nadi di leher Dogan Bey, keheningan menjalar beberapa detik, wajah Bayazid berubah cerah.

“Dogan masih hidup, tim medis,” Bayazid tegak dengan antusias.

Beberapa detik kemudian tim medis militer Khilafah Utsmaniyah membawa tandu dan menaikkan tubuh Dogan Bey ke atasnya, ia dibawa ke sebuah tenda. Bayazid meneruskan pengawasannya atas anak buahnya.

Matahari naik sepenggalahan. Para prajurit Khilafah berlalu lalang melaksanakan tugasnya di Oryahovo. Mereka menggali kubur, menggotong mayat, dan terus bersiaga. Bayazid mengomando semua dari atas kudanya yang gagah.

Tiba-tiba seorang prajurit berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Napasnya terengah-engah.

“Sultan, Dogan Bey sudah sadar.”

“Benarkah?” Bayazid tak percaya.

“Benar, Sultan.”

Bayazid bergegas menuju tenda tim medis, kaki kudanya berketoplak saat ia melaju cepat. Ia melompat turun dari kudanya dan melangkah masuk, menyibak tirai tenda yang menjadi pintunya.

Di dalam tenda tak ada pasien lain, hanya ada Dogan Bey, prajurit salib memang telah membunuh semua orang di Oryahovo.

Air muka Bayazid keruh! Ia melihat Dogan Bey merintih memanggil-manggilnya. Alisnya mengerut, langkahnya goyah. Ia berjalan mendekati pembaringan Dogan Bey. Tim medis berdiri di sisi ranjang Dogan Bey.

“Sultan… sultan… di mana sultan.?? Mana sultan Bayazid??” Ratap Dogan Bey lemah.

Bayazid tiba di tepi ranjang Dogan Bey, tak kuasa ia menatap bawahannya yang setia pada agamanya itu. Bebatan kain telah melingkar di telapak tangan Dogan Bey, tak ketinggalan bebatan kain itu telah melingkar pula di kepalanya. Luka-lukanya telah dibersihkan, namun masih meninggalkan warna merah di perbannya.

“Sul… tan, sultan Baya… zid,” ratapnya lagi, matanya menutup, tiap kali ia bicara wajahya mengernyit menahan sakit.

“Kami sudah berusaha untuk memintanya berhenti bicara, Sultan,” kata salah seorang anggota tim medis, “tapi Dogan Bey terus berusaha memanggil Sultan.”

Bayazid menyentuh bahu Dogan Bey, lembut dan sabar. “Aku di sini, Dogan, aku di sini, jangan khawatir.”

“Sultan…” Dogan Bey berusaha membuka matanya, berusaha menolehkan wajahnya kepada Sultan.

“Aku di sini, Dogan,” Bayazid mencondongkan tubuhnya kepada Dogan Bey.

Mata Dogan Bey yang merah dan nanar menatap wajah Bayazid, tiba-tiba senyum merekah di wajahnya yang biru lebam. Sebuah senyum yang perih, namun ikhlas.

“Alh… hamdu… lillahhh,” suara Dogan Bey lirih dan tenang. Seolah-olah penantiannya terbayarkan dengan hadirnya Bayazid.

Senyum mengembang di wajah Bayazid, namun bibirnya gemetar. Matanya berkaca-kaca, dan air mata lagi-lagi tumpah di pipinya. “Jangan bicara lagi, istirahatlah, kau aman sekarang.”

Napas Dogan Bey pendek-pendek, dadanya naik turun pelan. Namun senyum itu tak mau pergi dari bibirnya. Pandangan matanya tak mau lepas dari wajah Sultan. Ia mengedip dan mengangguk, memberi isyarat agar Bayazid mendekatkan telinganya, sebab ia sudah tak kuat lagi mengeluarkan suaranya.

“Sult… tan, lindu… ngi muslim di… Nikop… polis. Nikopo… lis,” Dogan Bey berbisik parau. “Nikopolis…”

Embusan napas menerpa telinga Bayazid, napas Dogan Bey yang terakhir. Perlahan Bayazid tegak di sisi Dogan Bey. Pemimpin orang-orang beriman itu menangis, matanya yang berair ditentang senyum ikhlas yang kini membeku di wajah kaku Dogan Bey. Dia seorang pemimpin besar, yang selalu menangis. Dan mujahid itu sudah pergi, rohnya terbang ke dalam pelukan Tuhan. Bumi dan makhluk hanya bisa mengenang.

Zuhur telah melayang pergi. Bayazid telah siap di atas punggung kudanya. Syekh Hassan menyertainya. Para komandan perang Khilafah Utsmaniyah mengelilingi Bayazid. Angkatan perang kaum muslim telah siap di Oryahovo setelah mereka selesai melaksanakan tugas mereka menguburkan jenazah di kota itu. Semua jasad telah mereka kebumikan, bukan hanya muslim, jasad pasukan salib pun mereka kuburkan dengan baik.

Bayazid menatap tajam para komandan perangnya dengan mata yang kemerahan, sejak pagi ia selalu menangis. Pedangnya kokoh menggelantung di pinggang kirinya.

“Kita akan ke Nikopolis, mengejar pasukan salib, kita harus menghancurkan mereka, sebab telah banyak kerusakan yang mereka perbuat. Semoga Allah merahmati kita, kezaliman mesti kita hancurkan, kitalah umat terbaik, selama kita pegang Islam dengan teguh.”

Bayazid diam sejenak, ia terkenang Dogan Bey, terkenang kaum muslim yang syahid di Oryahovo demi mempertahankan agamanya dan penerapan Islam. Matanya berkaca-kaca lagi. Ia menarik napas dalam-dalam, dicabutnya pedangnya, ditusukkannya ke langit, ia meraung.

“ALLAAAAAAAHU AKBAR.”

Takbir mengguntur keluar dari mulut ribuan prajurit muslim. Mereka semua bergerak cepat menuju Nikopolis. Penjajahan mesti dihancurkan. Dan betapa indah ketika jauh ratusan tahun yang lalu, Rasulullah bersabda, bahwa Khalifah adalah perisai, tempat umat berlindung di belakangnya. Allah mendelegasikan amanah kepada Khalifah untuk melindungi orang-orang beriman dari segala mara bahaya. (Rasulullah bersabda, “Imam adalah perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya, dan berlindung dengannya.” Namun kini perisai itu tak ada, dan setiap hari nyawa umat melayang sia-sia).

Love Asset

Love Asset

Apa yang akan Anda lakukan demi mendapatkan sebuah cinta sejati yang selama ini Anda cari? Memperjuangkannya, menangisinya, atau menyesali cinta-cinta sebelumnya dan menganggapnya sebagai sebuah kesalahan?

Love Asset mengisahkan tentang perempuan muda bernama...
Existere

Existere

Salahkah jika hati kupu-kupu malam sepertiku tertambat pada lelaki mulia, dan bukan pada lelaki bejat? Salahkah jika aku berharap mempunyai suami yang kelak dapat membimbingku menebus semua dosaku dan mendapatkan lagi kehidupan yang normal? Jika pernikahan suci tak pantas...
Pudarnya Pesona Cleopatra

Pudarnya Pesona Cleopatra

Tak terasa airmataku mengalir, dadaku sebak kerana rasa terharu yang teramat sangat.

Tangisanku mulai gugur dalam isak tangisanku, semua kebaikan Raihana yang selama ini mulai terbayang di benak fikiranku.

Wajahnya...
Pudarnya Pesona Cleopatra

Pudarnya Pesona Cleopatra

Tak terasa airmataku mengalir, dadaku sebak kerana rasa terharu yang teramat sangat.

Tangisanku mulai gugur dalam isak tangisanku, semua kebaikan Raihana yang selama ini mulai terbayang di benak fikiranku.

Wajahnya...
Love at the First Sight

Love at the First Sight

Saat itu, ada firasat yang terlintas di benakku. Dadaku lebih sesak lagi. ternyata firasatku tidak meleset. Selang beberapa jam kemudian, kami bertemu kembali di kelas SMU.

Lelaki yang beberapa jam kulihat berdiri di tepi pantai, sekarang...
Lintang Kemukus Dini Hari (Dukuh Paruk #2)

Lintang Kemukus Dini Hari (Dukuh Paruk #2)

Buku kedua seri Dukuh Paruk.

Kepergian Rasus yang tanpa pamit memberikan luka tersendiri bagi Srintil. Ia merasa telah ditolak oleh lelaki yang dicintainya. Seiring waktu, ketenaran Srintil sebagai...
Heaven

Heaven

Fang mengira akan menjalani hidupnya sama seperti orang-orang lain, lahir, dewasa, menikah, punya anak dan meninggal. Mungkin akan sama persis seperti ibunya, yang miskin, lelah, menderita dan tua sebelum waktunya. Tapi ia tidak mau.

Ketika ia lari dari pria yang tidak...